aksi hari bumi gerpad

•April 29, 2010 • Tinggalkan sebuah Komentar

GERAKAN PEMUDA DEMOKRATIK

(GERPAD)

Peringatan Hari Bumi 22 April 2010

BUMI YANG TERANCAM

Berjalannya waktu sampai hari ini, tahun sudah mencapai milinium baru yaitu 2010. Ini berarti waktu yang telah kita lalui semenjak perhitungan di mulai sejak zaman masehi. Sudah selama ini begitu banyak fenomena yang di timbulkan oleh manusia sebagai mahluk bumi. Yang menurut dongengnya bahwa bumi beserta isinya merupakan titipan dari sang kholiq. dongeng itu juga dikuatkan lewat UUD bahwa alam beserta isinya dipergunakan sebesar-sebesarnya untuk kemakmuran rakyat.

Kiranya dongeng itu seharusnya kita jalani dan cermati secara seksama karena merupakan semangat untuk kita bercermin jika bumi hancur maka kehidupan manusia juga hancur. Jauh dari yang diharapkan rupanya kehendak manusia berbicara lain dengan dongeng itu. Alasannya satu yaitu bumi untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia, maka bumi menjadi korban dari eksploitasi dalam memenuhi hidupya. Tapi manusia itu hanya sebagian kecil dari mayoritas rakyat yang ada. Katanya untuk kemakmuran rakyat yang terjadi malah sebaliknya yaitu kesengsaraan rakyatlah yang ada. Manusia itu adalah penguasa dari berbagai macam negri yang mengkonsep suatu sistem cara hidup masyarakat dunia, sistem yang di anggap sebagai penyelamat manusia yaitu apa yang di sebut dengan Kapitalisme.

Tapi rupanya sistem kapitalisme hanya mendatangkan keuntungan bagi segelintir orang yang pada prinsipnya, barang siapa yang memiliki modal itulah yang berkuasa. Dan dekat dengan penguasa. Dan ternyata kapitalisme terbukti gagal untuk mensejahterakan rakyat. terlihat dari banyak rakyat yang kelaparan, jangankan mendapatkan pekerjaan makan pun mengalami kesusahan. Dan kapitalisme lah yang menciptakan berbagai macam krisis di jagad raya ini.

Di Indonesia watak penguasanya adalah tidak memiliki skill dalam mengolah sumber daya alam didalam negrinya maka salah satu yang di lakukan untuk mendatangkan keuntungan baginya adalah menjual (calo dan cukong-cukong) semua kekayan alamnya kapada para kapitalisme internasional dengan gerbang masuknya menggunakan Undang-Undang Penanaman Modal Asing (UUPMA) pada tahun 1967 yang di lakukan oleh pemerintah melalui orde baru atau Golkar yang di kepalai oleh soeharto pada masa itu. tercatat modal asing yang masuk 953,7 juta US $. Dilegitimasi lebih kuat lagi oleh Undang-Undang No 11 tahun 1967 tentang ketentuan-ketentuan pokok pertambangan dan peraturan pelaksanaannya. Konsep dan praktek ini juga mengakibatkan 2,7 juta hektar mengalami kerusakan pertahunnya. Pembalakan hutan dimana-mana tanpa ada kompensasi bagi hutan itu sendiri.

Sampai hari ini pemerintahan SBY-Boediono adalah perpanjangan tangan dari pemerintahan soeharto yang bersifat kapitalistik. Tapi Bagaimana mungkin hari ini masyarakat dunia umunya dan rakyat indonesia khususnya lagi mengalami goncangan bencana yang datang silih berganti bagai arisan. Malah pemerintah mengeluarkan peraturan pemerintah yang mengizinkan pembukaan hutan untuk pertambangan, pembangunan infrastruktur telekomunikasi, energi, dan jalan tol dengan tarif sewa sangat murah. Alih fungsi hutan produksi dan hutan lindung itu hanya dikenai tarif Rp 1,2 juta/hektar per tahun hingga Rp 3 juta/hektar per tahun, atau Rp 120/meter hingga Rp 300/meter.

Butir-butir peraturan pemerintah itu ditandatangani Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 4 Februari dengan nama Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 2 Tahun 2008 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) yang Berasal dari Penggunaan Kawasan Hutan untuk Kepentingan Pembangunan di Luar Kegiatan Kehutanan yang Berlaku pada Departemen Kehutanan.

Tentunya kebijakan ini sangat merugikan dan menjadi cerminan dari watak pemerintah yang anti terhadap kelestarian lingkungan  (kaum komparador) yang nyata-nyata dampaknya merugikan rakyat luas. Dan kebijakan ini sangat kontra dengan apa yang di kampanyekan oleh SBY sendiri bahwa anti dengan pemanasan global (global warming). Padahal kita tau bahwa yang mengakibatkan terjadinya pemanasan global adalah minimnya sumbangsi hutan untuk kehidupan manusia karena alam di rusak (HPH, ilegal loging, legal loging, pembakaran hutan dll).

Pemanasan global mengakibatkan dampak yang luas dan serius bagi lingkungan biogeofisik, seperti lelehan es dikutub, kenaikan muka air laut, perluasan gurun pasir, peningkatan hujan dan banjir, punahnya flora dan fauna tertentu, migrasi fauna dan hama penyakit dan sebagainya. Pemanasan global bisa menyebabkan ledakan gas metana yang besarnya 10.000 kali lipat dari pada ledakan yang di hasilkan oleh seluruh nuklir didunia. Juga dapat menyebabkan lautan api dan banjir yang maha besar sehingga menyebabkan kepunahan 90% spesies laut dan 75% spesies darat.

Di beberapa daerah di negeri ini sudah lama terkena dampaknya seperti banjir, tanah longsor, tsunami, dan yang lagi melandah Sumbawa adalah kekeringan yang mengancam gagal panen bagi para petani. Hal ini tentunya bukan hanya kerena takdir dari sang khalik tapi karena ulah manusia itu sendiri. Yang sangat rakus merusak hutan sehingga tidak ada keseimbangan, sampai saat ini luas hutan yang tersisa hanya 35,5 juta hektar, dari luas sebelumnya 126,8 juta hektar ini berarti setiap tahunnya 2,7 juta hektar/tahun hutan Indonesia mengalami kerusakan. Dan hutan yang tersisa itupun kondisinya sudah sangat memperihatinkan.

Pemerintah dengan slogan orang bijak taat pajak adalah pembodohan belaka tanpa ada timbal baliknya karena rakyat tidak dapat subsidi yang layak. Bencana alam yang terjadi adalah dampak dari sistem ecodevelopmentalism yang diterapkan oleh pemerintah sejak kediktatoran orde baru dimana alam diexploitasi hanya untuk pembangunan semata tanpa menjaga kelestariannya. Belum lagi kalau kita bicara tentang ekosistem yang sudah parah, jangankan itu hutan lindung yang seharusnya dijaga ekosistemnya malah menjadi lahan pertambangan contohnya Newmont Nusa Tenggara yang berlokasi di Kabupaten Sumbawa Barat, NTB, sebuah perusahaan raksasa dari negeri kapitalis Amerika adalah perusahaan tambang terkemuka di Indonesia. Memperoleh konsesi kontrak karya seluas 1.127.134 hektar dengan hasil produksi 948,635 triliun per tahun. PT Freefort Indonesia yang berlokasi di Papua dengan luas 2.102.950 hektar (Catatan Jaringan Advokasi Tambang).

Dari sektor pertambangan rakyat hanya di beri limbahnya saja dan mengirimkan segala macam penyakit dan bencana. Dan untuk meredam emosi gerakan rakyat maka pemerintah memberikan rakyat cukup sekedar ceceran kecil BLT, Askeskin/Jamkesmas, Beasiswa, BOS, Raskin, PNPM Mandiri, KUR, yang kesemuanya sarat korupsi birokrasi busuk, dan tak bisa menanggung lebih dari 110 juta rakyat miskin Indonesia (yang berpendapatan $2 atau Rp.20.000,- per hari). Ceceran dana yang harus diperebutkan antar sesama rakyat miskin, ceceran dana yang tak produktif! Padahal, sebenarnya rakyat butuh lapangan pekerjaan, agar hidupnya bermartabat.

Jalan keluar pemerintah SBY-BOEDIONO dan seluruh elit politik serta partai-partainya: rakyat harus jadi tumbalnya. Perusahaan besar yang bangkrut ditalangi uang negara (baca: uang rakyat); yang tak bangkrut diberikan stimulus fiskal (keringanan hingga penundaan pajak). Semua uang itu hasil keringat rakyat dan/atau dari utang luar negeri. Utang luar negeri akhirnya meningkat ($AS 65,447 miliar), dan rakyat lagi yang harus membayar dengan keringatnya (setiap kepala rakyat, termasuk bayi, harus menanggung 11,8 Juta utang luar negeri -data Desember, 2008).(Kemanakah uang itu???).

Ditambah lagi Krisis yang membuat rakyat makin susah cari uang; PHK makin luas; pengangguran makin banyak; petani makin merugi; penggusuran makin sering; keluarga miskin makin banyak yang bunuh diri; kaum perempuan dipaksa kembali ke rumah atau berkubang dalam pekerjaan tak bermartabat (menjadi pelacur dan TKI); orang muda makin tak punya masa depan -susah sekolah (apalagi masuk Universitas).

Penguasa benar-benar menampilkan watak sebagai agen kapitalis internasional tanpa memperdulikan masa depan rakyatnya dan sama sekali tidak memperdulikan kondisi lingkungan hidup yang tengah mengalami kehancuran. Hal ini terlihat dari bagaimana para penguasa negeri mengeluarkan ijin pertambangan dan yang lebih parah lagi sebagian besar ijin tersebut beroprasi di kawasan hutan lindung. Padahal jika dihitung kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian negara sangatlah rendah. Nilai yang tidak sebanding dengan bencana yang diakibatkan oleh kerusakan lingkungan, hutan, krisis air, dan pelangaran HAM yang ditimbulkan akibat keberadaan pertambangan. Karena inilah yang merupakan landasan terjadinya bencana dimana-mana!!!

Maka sudah saatnya kita mengatakan kebenaran, bahwa yang mengakibatkan bencana adalah ulah para perusahaan tambang yang mengeruk isi bumi, akibat dari undang-undang yang di buat oleh pemerintah pusat kemudian di dukung oleh peraturan pemerintah daerah (Gubernur, Bupati) untuk memeperlancar aksi para pengusaha untuk merusak bumi ini. Pemerintah kabupaten sumbawa harus bertanggung jawab atas ijin yang diberikan kepada mereka untuk melakukan pertambangan yang konon katanya mendatangkan keuntungan bagi warga tapi malah bencana yang diberikan.

Pemilihan Bupati sebagai momentum politik buat rakyat dan masa depan tanah kita(Pulau Sumbawa) yang terancam oleh gelombang pertambangan. Kesempatan untuk menyatakan pendapat bahwa apa yang dilakukan oleh pemerintah selama ini tidak ada dan belum pernah berpihak kepada rakyat miskin. Bahwa apa yang menjadi harapan rakyat akan kesejahteraan menjadi taruhan politik. Nyatanya rakyat membutuhkan Bendungan daripada keberadaan pertambangan (PTNNT dan lain-lain).

Jangan biarkan lebih lama lagi. Perubahan selalu disebabkan oleh radikalisasi gerakan rakyat untuk kehidupan semuanya yang lebih baik. Rakyat sudah berhasil menggulingkan Soeharto. Hasilnya: kebebasan berpendapat dan berorganisasi, SAATNYA Rakyat bersatu menolak jadi tumbal janji palsu para pejabat dan politisi busuk!!!untuk itu kami dari gerakan pemuda demokratik menuntut:

  1. Tolak berdirinya PT. Newmount Dodo Rinti
  2. Tolak segala macam jenis pertambangan (Batu Mangan, Emas, Uranium, Batu Hijau dll)
  3. Hapus hutang luar Negri
  4. Usut tuntas kasus pelanggaran HAM
  5. Adili dan sita harta para koruptor
  6. Nasionalisasi aset-aset asing
  7. Bangun industrialisasi nasional dibawah kontrol rakyat
  8. Lapangan kerja untuk rakyat
  9. Pendidikan dan kesehatan gratis untuk rakyat
  10. Tolak outsourching/Buruh Kontrak
  11. Upah minimum nasional

Bangun persatuan gerakan rakyat, rebut sosialis sejati!!!

proposal kegiatan GERPAD

•Agustus 30, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

PROPOSAL KEGIATAN RAMADHAN

“Kreatif Ramadhan “

GERAKAN PEMUDA DEMOKRATIK

2009

PANITIA KEGIATAN RAMADHAN

“Gerakan Pemuda Demokratik”

( GERPAD )

Sekretariat : Selante, RT 02 Kec. Palampang Kab. Sumbawa

Email:gerpadmerah@yahoo.com/ www. Jaranpusang.wordpress.com Cp:081918152444

Proposal Kegiatan Ramadhan

“Kreatif Ramadhan”

gerakan pemuda demokratik

gerakan pemuda demokratik

“Gerakan Pemuda Demokratik”

I. Tema Kegiatan

Dengan berkarya, berbudaya, berilmu, menyatu dalam ramadhan.

II. Nama Kegiatan

Kreatif ramadhan

III. Latar Belakang

Karya merupakan ciri dari manusia, dalam mempertahankan hidupnya atau dalam bahasa kerennya “survive”. Manusia berkarya dengan berbagai macam bentuk, akan tetap didasari pada nilai dari sebuah karya tersebut dan situasi atau momentum yang memungkinkan karya tersebut mendapat perhatian, baik dalam bentuk nilai pakai atau sebagai nilai tukar. Karya bisa dijadikan sebagai refresentasi dari sebuah nilai kebudayaan di sebuah tempat. Karena budaya akan ditemukan melalui berbagai macam karya yang diciptakan oleh makhluknya. Logikanya adalah budaya akan diakui jika ada sebuah karya.

Begitu pula dengan kehidupan bermasyarakat, akan dikatakan masyarakat apabila masyarakat tersebut memiliki budaya. Karena ciri dari sebuah masyarakat adalah berbudaya. Maka benang merah atau makna yang tersirat adalah manusia yang berada dalam masyarakat harus berkarya sebagai cerminan eksistensinya.

Berkarya, berbudaya, dan berilmu bukan hanya menjadi sebuah slogan tapi harus diakui bahwa hal tersebutlah  yang akan mengantarkan masyarakat pada tatanan kehidupan yang lebih baik. Ada beberapa persyaratan untuk mencapai masyarakat berilmu, diantaranya adalah rakyat harus berorganisasi dan menjaga eksistensinya. Dengan berorganisasi rakyat akan sadar atasa hak dan kebutuhannya. Oleh karena itu GERPAD (Gerakan Pemuda Demokratik) sebagai organisasi rakyat yang lahir sebagai organ pengkarya untuk memicu semangat berkarya dan bisa menjadi inspirasi untuk generasi yang lain.

Ramadhan adalah bulan suci yang bisa dikatakan sebagai bulan yang ditungu – tunggu oleh umat muslim di seluruh jagat bumi ini. Karena baginya, ramadhan tempat berpuasa yang bermakna sebagai tempat belajar dan mengevaluasi diri, bahkan membuat rekomendasi sebagai pandangan kedepan umat manusia. Bagi kaum muslim, bulan ramadhan merupakan tempat segala macam kehidupan. Pengujian mental, emosi, jiwa, dan tempat  penyucian dari hal negatif yang dilakukan sebelumnya. Suatu sikap spiritual dari umat beragama dimana diposisikan tidak melakukan makan dan minum dalam tingkatan praksisnya,  pengujian dan penyucian jiwa dalam hal strategisnya.

Bagi umat non muslim, ramadhan adalah waktu buat bertoleransi antar umat beragama. Sabagai cerminan hidup ditengah pluralisme yang menghargai perbedaan. Dan memaknai perbedaan, hal tersebuat sebagai sutau cara hidup yang indah dan menarik untuk dijalani.

Begitu banyak macam makna dan pelajaran dari ramadhan yang bisa dirasakan sebagai pemberian budaya dari agama Islam yang layak untuk dilestarikan dan dijalani. Tentu saja ramadhan tidak akan berlalu begitu saja tanpa ada sesutau yang diakukan oleh rakyat untuk memberikan sebuah instrument kehidupan yang harmonis.

Oleh karena itu, GERPAD (Gerakan Pemuda Demokratik) memberikan sebuah warna tersebut dengan memberikan sumbangsih pada bulan Ramadhan ini berupa kegiatan kerohanian sebagai bentuk apresiasi anak muda yang kreatif. Adapun kegiatan tersebut kami adakan dengan tema “ Dengan Berkarya, Berbudaya dan Berilmu Menyatu dalam Ramadhan”. Dengan penjelasan tema berdasarkan semangat yang beranjak dari kreatifitas yang tinggi dan niat memberikan sesuatu yang berkesan dibulan suci ramadhan ini.

IV. Dasar Pemikiran

1        Program kerja GERPAD (Gerakan Pemuda Demokratik).

2        Berdasarkan pada situasi dan momentum bulan ramadhan.

V. Tujuan Kegiatan

Kegiatan ini bertujuan memperingati ramadhan dengan berkarya, hinga terjalin hubungan  harmonis didalam masyarakat Selante padda khususnya, dan umat beragama pada umumnya.

VI. Jenis Kegiatan

1        Buka bersama                       8. Drama

2        Baca puisi                               9. Shalat berjamaah

3        Pidato                                     10. Takbiran

4        Cerdas Cermat                       11. Saur bareng ( dapur umum)

5        Khotbah                                 12. MTQ

6        Adzan                                     13. Gotong royong

7        Hafalan ayat – ayat pendek  14. Ngumang

15. lawas

VII. Target Kegiatan

Seluruh masyarakat desa Selante.

VIII. Waktu dan Tempat Pelaksanaan

Hari          :  Sabtu – Selasa

Tanggal    :  5 – 22 september 2009

Tempat     :  Panggung depan masjid “Miftahul Jannah”

Desa Selante. kec plampang

IX. Pelaksana

Semua anggota GERPAD ( Gerakan Pemuda Demokratik ).

X. Penanggungjawab Kegiatan

Semua pengurus GERPAD ( Gerakan Pemuda Demokratik ).

XI. Anggaran Dana

Rencana anggaran dana terlampir

XII. Penutup

Demikian Proposal ini kami buat, dan besar harapan kami semoga semangat kami untuk menjalankan ide tersebut dalam ridho allah swt dan kemudian juga menjadi harapan juga kiranya proposal ini atau permohonan dana ini bisa di kompromikan dan dapat bantuan financial untuk menjalankan program tersebut. sehingga dapat dipahami bahwa kegiatan kreatif Ramadhan sebagai karya anak negri yang kreatif dan bentuk penghargaan kami terhadap bulan suci Ramadhan. Semoga kegiatan ini dapat bermanfaat bagi semua pihak.

Selante, 23 Agustus 2009

Ketua Panitia,                                                                                  Sekretaris,

Atif Dores                                                                                     Rustam Efendi

Mengetahui,,

Kepala Desa Selante                                                                               Ketua GERPAD

Firdaus Alamsyah, B Rustam Efendi

Lampiran 1

SUSUNAN PANITIA

“Kreatif Ramadhan”

2009

Penanggung jawab Umum                           : Seluruh Pengurus GERPAD

Ketua panitia                                                 : Atif Dores

Sekretaris                                                       : Rustam Efendi

Bendahara                                                      : Harsunardi

Humas                                                             :  Nanang Irawan

: Aryatma

Acara                                                               :  Saharudin Ragel

: Jaya Perdana

perlengkapan                                                  :  Sanafiah

: Nanang Romansyah

Pubdekdok                                                     :  Jhonatan

: Hanriyadi

konsumsi                                                        : Roby Nabebi

: Safarudin

: Ari Sofyan

Pembantu Umum                                          : Amri Fitrawan

: Derby Hermansyah

: Ances

Lampiran 2

ANGGARAN DANA

    UNTUK anggaran dana silahkan hub bagian dana dan usaha kami di line hp.081918152444

    kreatif ramadhan

    •Agustus 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

    Karya merupakan ciri dari manusia, dalam mempertahankan hidupnya atau dalam bahasa kerennya “survive”. Manusia berkarya dengan berbagai macam bentuk, akan tetap didasari pada nilai dari sebuah karya tersebut dan situasi atau momentum yang memungkinkan karya tersebut mendapat perhatian, baik dalam bentuk nilai pakai atau sebagai nilai tukar. Karya bisa dijadikan sebagai refresentasi dari sebuah nilai kebudayaan di sebuah tempat. Karena budaya akan ditemukan melalui berbagai macam karya yang diciptakan oleh makhluknya. Logikanya adalah budaya akan diakui jika ada sebuah karya.
    Begitu pula dengan kehidupan bermasyarakat, akan dikatakan masyarakat apabila masyarakat tersebut memiliki budaya. Karena ciri dari sebuah masyarakat adalah berbudaya. Maka benang merah atau makna yang tersirat adalah manusia yang berada dalam masyarakat harus berkarya sebagai cerminan eksistensinya.
    Berkarya, berbudaya, dan berilmu bukan hanya menjadi sebuah slogan tapi harus diakui bahwa hal tersebutlah yang akan mengantarkan masyarakat pada tatanan kehidupan yang lebih baik. Ada beberapa persyaratan untuk mencapai masyarakat berilmu, diantaranya adalah rakyat harus berorganisasi dan menjaga eksistensinya. Dengan berorganisasi rakyat akan sadar atasa hak dan kebutuhannya. Oleh karena itu GERPAD (Gerakan Pemuda Demokratik) sebagai organisasi rakyat yang lahir sebagai organ pengkarya untuk memicu semangat berkarya dan bisa menjadi inspirasi untuk generasi yang lain.
    Ramadhan adalah bulan suci yang bisa dikatakan sebagai bulan yang ditungu – tunggu oleh umat muslim di seluruh jagat bumi ini. Karena baginya, ramadhan tempat berpuasa yang bermakna sebagai tempat belajar dan mengevaluasi diri, bahkan membuat rekomendasi sebagai pandangan kedepan umat manusia. Bagi kaum muslim, bulan ramadhan merupakan tempat segala macam kehidupan. Pengujian mental, emosi, jiwa, dan tempat penyucian dari hal negatif yang dilakukan sebelumnya. Suatu sikap spiritual dari umat beragama dimana diposisikan tidak melakukan makan dan minum dalam tingkatan praksisnya, pengujian dan penyucian jiwa dalam hal strategisnya.
    Bagi umat non muslim, ramadhan adalah waktu buat bertoleransi antar umat beragama. Sabagai cerminan hidup ditengah pluralisme yang menghargai perbedaan. Dan memaknai perbedaan, hal tersebuat sebagai sutau cara hidup yang indah dan menarik untuk dijalani.
    Begitu banyak macam makna dan pelajaran dari ramadhan yang bisa dirasakan sebagai pemberian budaya dari agama Islam yang layak untuk dilestarikan dan dijalani. Tentu saja ramadhan tidak akan berlalu begitu saja tanpa ada sesutau yang diakukan oleh rakyat untuk memberikan sebuah instrument kehidupan yang harmonis.
    Oleh karena itu, GERPAD (Gerakan Pemuda Demokratik) memberikan sebuah warna tersebut dengan memberikan sumbangsih pada bulan Ramadhan ini berupa kegiatan kerohanian sebagai bentuk apresiasi anak muda yang kreatif. Adapun kegiatan tersebut kami adakan dengan tema “ Dengan Berkarya, Berbudaya dan Berilmu Menyatu dalam Ramadhan”. Dengan penjelasan tema berdasarkan semangat yang beranjak dari kreatifitas yang tinggi dan niat memberikan sesuatu yang berkesan dibulan suci ramadhan ini

    puisi

    •Maret 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

    untuk para wanita yang terhegemoni oleh keadaan..

    saya jadi teringat pada teman saya yang tak bisa keluar rumah tanpa make-up. ia menghabiskan pagi hari yang indah hanya untuk bersolek didepan kaca… pencuci muka bermerek terkenal saat ini, pembersih muka, alas bedak, bedak tabur, bedak padat, blush on, eye shadow, pinsil alis mata biar terlihat belo matanya, bulu mata palsu, lipstik, dll. saya tidak tau kesananya lagi apa yang ia bubuhkan pada wajahnya yang makin hari makin rusak oleh bahan kimia yang terkandung dalam alat2 kosmetik itu. seperti yang di bukunya Ayu Utami yang berjudul Si Parasit Lajang..”Perempuan adalah makhluk terjelek di dunia, sebab ia selalu membubuhkan topeng, pupur dan gincu ” betapa kaum wanita berlomba2 mempercantik luar..tanpa ia sadari, ia telah menjadi korban kapitalis dalam bentuk produk2 kosmetik yang beredar dipasaran yang di iming2i di iklan produk kecantikkan.. wake up girls..halloo..tau gak sih..cantik murni itu lebih menarik bagi kaum pria!!! saatnya percantik diri dengan ilmu dan wawasan! itu akan jadi nilai lebih dirimu wahai wanita!!! keep strugle oke!

    prempuan perkasa

    prempuan perkasa

    by: Rasputia (^_^)

    sastra

    •Januari 28, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

    Seni Untuk Publik

    sebuah pandangan tentang kesenian saat ini

    Andre GB

    DUNIA saat ini adalah kapitalisme. Tak terkecuali Indonesia. Telah banyak ekonom kritis memberi nama baru untuk sistem ini, dengan melihat perkembangannya yang semakin gila di akhir abad 20: neoliberalisme. Dari sudut pandang ekonomi-politik, kapitalisme dapat diartikan tentang bagaimana suatu aspek kehidupan, yang seharusnya diakses oleh semua orang, menjadi hanya milik segelintir orang yang beruntung (secara ekonomi dan politik). Dan kerja–kerja kesenian, semacam lukisan-lukisan, buku–buku puisi, kerajinan tangan ataupun ukiran-ukiran, lagu-lagu dan sebagainya, bukanlah pengecualian dari hukum umum ini.

    Dewasa ini, kondisi tersebut telah menjadi suatu kenyataan di Indonesia. Kita bisa melihat, bagaimana lukisan-lukisan indah, patung-patung berestetika tinggi, sampai kerajinan-kerajinan tangan bermutu, dipajang dan dijual dengan harga melangit di galeri-galeri bonafit. Warga Sulawesi Utara (Sulut), khususnya di kota Manado, tentu masih ingat tragedi terjualnya lukisan Sonny Lengkong, ketika pameran tunggalnya diadakan di salah satu hotel mewah di kota Manado, mencapai total lebih dari Rp 300 juta beberapa waktu silam. Tentu saja akhirnya, para penikmat seni yang datang ke galeri ataupun pameran pun relatif mapan secara ekonomi. Tak jarang, sebuah karya seni mahal tersebut setelah laku terjual, dibawa pulang ke rumah, diletakkan dalam satu ruangan khusus yang hanya bisa diakses segelintir orang, atau untuk dinikmati oleh pribadi ataupun keluarganya. Sebuah karya seni telah kehilangan sifat publiknya.

    Manusia sejatinya tidak dapat dipisahkan dari kesenian, termasuk menikmati karya seni. Tapi, kini karya seni telah semakin nyata teralienasi dari manusianya, seiring menguatnya neoliberalisme sebagai perkembangan tertinggi kapitalisme dunia. Sepertinya, tangan manusia semakin kurang panjang agar mampu menggapai karya–karya seni tersebut. Yang ironisnya, justru lahir dari bekal pengalaman yang kemudian lahir dan menemukan medianya dalam bentuk karya seni.

    Namun setiap thesis tentu memiliki anti-thesis. Realitas kesenian di bawah imperum kapitalisme, pasti memiliki kontradiksi internal dalam dirinya. Untuk dapat membongkarnya, pertama-tama kita harus mengetahui dengan benar bagaimana wujud kerja kapitalisme dalam kesenian.

    Mistifikasi Seni

    Secara teori, perpustakaan, museum maupun galeri dimaksudkan untuk menjamin akses publik terhadap kesenian, menyediakan ruang tertentu agar nyaman dalam menikmatinya, dan memang sukses tetapi dalam derajat tertentu. Meskipun demikian, masih banyak apresian seni, terutama yang berkemampuan ekonomi lemah, telah terlanjur membenarkan dalam pikirannya, bahwa tempat–tempat semacam itu tidaklah mungkin dibuat untuk kalangan mereka. Suasana khidmat perpustakaan besar, museum dan galeri membuat mereka seperti terintimidasi. Sebagaimana kenyataan sekarang, tempat–tempat itu memang “ada” untuk kaum menengah maupun kelas atas. Dan sungguh sebuah kesialan yang sangat tepat untuk watak masyarakat kita, yang masih kurang percaya diri dalam mengapresiasi maupun untuk menghasilkan karya seni itu sendiri.

    Seorang teoritikus seni terkenal, John Berger, menggambarkan proses yang sedang berlangsung ini sebagai sebuah bagian utuh dari kecenderungan umum mistifikasi terhadap kesenian di dalam dunia kapitalisme. Pierre Bourdieu, sosiolog Perancis, melakukan observasi yang mirip. Penelitian itu mengantarkannya pada sebuah fakta, terdapat perbedaan cara pandang terhadap kesenian untuk masing–masing kelas sosial yang berbeda tingkatannya. Secara hegemonis maupun ekonomis, kelompok masyarakat kelas bawah akan dipaksa untuk terus menganggap bahwa karya-karya seni yang tengah dipajang di galeri-galeri, adalah suatu hal yang sakral (bukan untuk kalangan mereka) dan tidak terjangkau.

    Langkah kedua adalah tentang bagaimana upaya sistematis dari kapitalisme, untuk terus mencegah akses manusia secara luas terhadap kesenian, adalah dengan menjadikan karya seni sebagai komoditi mewah yang diperjual-belikan di pasar dengan harga yang sangat mahal. Seniman-seniman profesional didorong untuk tunduk dan membebek pada pola pasar, agar bisa terus bertahan hidup. Sedang sekelompok kecil individu yang kaya raya, memiliki dan menguasai karya–karya seni yang mashyur dan mahal.

    Tak ketinggalan, institut-institut kesenian, sebagai alat ideologi formal penghasil seniman–seniman, secara seragam mengajarkan kepada semua anak didiknya bagaimana berkesenian agar mampu terjual dengan harga tinggi nantinya. Dan secara tak sadar, akhirnya mereka melakukan kerja kesenian dengan tidak menggunakan sense, melainkan logika pasar. Sayangnya, logika tersebut pada perjalanannya, semenjak lahirnya di abad 18, tak pernah seiring dengan logika mayoritas rakyat.

    Seni Langsung Turun Ke Jalan

    Bagaimana cara melawan arus kapitalisme dalam seni? Salah satu yang bisa dicoba adalah dengan mengeluarkan seni dari perpustakaan elit, museum ataupun galeri ke jalanan. Biarkan seluruh apresian seni, yang adalah rakyat, dari tua muda, kaya maupun miskin, agar menikmatinya. Galeri–galeri mewah itu terlalu sakral untuk masyarakat kita yang mayoritas miskin. Dengan meletakkan kesenian di jalanan, akan menghancurkan elitisme dari galeri-galeri, museum–museum, maupun perpusatakaan elit sekaligus, untuk mendapatkan kembali ruang publik dan menghambat upaya-upaya pengkomoditian kesenian.

    Kegiatan ini telah banyak dilakukan oleh seniman-seniman muda di Sulawesi Utara. Di bidang seni pertunjukan, pentas teater jalanan yang diadakan oleh Teater Kronis Manado, selama rentang tahun 1997 sampai 2004, Komunitas Pekerja Sastra (KONTRA) Sulut sepanjang 2001 sampai 2005, lalu dilanjutkan Kolektif Kerja Budaya Rakyat (KKBR) Manado, selama rentang tahun 2005 – 2007, adalah anti thesis terhadap pertunjukan–pertunjukan teater yang digagas oleh lembaga–lembaga pemerintah (penguasa) seperti, Persatuan Artis Teater Sulut (PATSU) ataupun Dewan Kesenian Sulawesi Utara, yang hanya terus sembunyi di gedung–gedung mewah, sibuk dengan lomba–lomba yang lebih berorientasi pada kalah menang dan perebutan uang hadiah.

    Di bidang seni rupa, bisa mencontoh apa yang pernah dilakukan oleh seniman Arie Tulus bersama Mawale Art Comunity pada tanggal 7 April 2007. Bersamaan dengan pentas dan musikalisasi puisi, ia memamerkan lukisan–lukisannya di ruang terbuka dan secara langsung menjemput apresiasi publik.

    Di bidang sastra, penerbitan buku–buku puisi karya penyair lokal secara underground dan peluncurannya yang justru hanya di laksanakan di sekretariat–sekretariat komunitas ataupun kelompok seni, atau kedai kecil di fakultas Sastra UNSRAT (Universitas Sam Ratulangi). Sebuah ruang yang terbuka akan akses para apresian, tanpa harus menemukan kesulitan yang berarti. Buku–buku yang juga dicetak dan di publikasikan secara underground, menjadi tamparan telak bagi banyak seniman mapan yang ingin karya–karyanya diterbitkan oleh penerbit besar dan akhirnya secara sadar, menjebakkan diri dalam budaya mengemis. Dan ketika biaya menjadi hambatan, proses kreatifpun seringkali mandek atau bahkan berhenti sama sekali.

    Di bidang seni musik, apa yang dilakukan oleh musisi Witho Bangsat Abadi (yang populer lewat hitsnya Maitua & Aku Bukan Dispenser), mungkin bisa dijadikan bukti nyata, bahwa menghasilkan seni yang kerakyatan, anti hegemoni dan anti privatisasi adalah mungkin. Lagu–lagu ciptaannya, yang kemudian populer di chart indie beberapa radio lokal seperti Radio Suara Minahasa (93.3 FM) dan SIP FM, tidaklah direkam di studio mewah yang penuh peralatan mahal. Dengan berbekal kemampuan memanfaatkan teknologi lalu mempublikasikannya lewat jaringan seni yang dipunyai (ingat, bahwa pacar, teman, ataupun keluarga termasuk jaringan seni kita yang paling dekat), Witho BA memberi bukti eksistensi musik indie di tengah gempuran major label yang hanya berorientasi pada akumulasi keuntungan. Dan tentu saja ada garansi akan kualitas karya musik tersebut.

    Tentu saja berkesenian di jalanan, tidak secara otomatis menjadikan kesenian tersebut berwatak kerakyatan dan menghasilkan iklim apresiasi yang positif. Kita pasti ingat, para penguasa di negeri manapun, selalu membangun patung-patung atau monumen–monumen mengenai diri atau kekuasaan mereka, untuk ditampilkan di tempat–tempat publik. Tujuan bangunan–bangunan tersebut adalah untuk mengintimidasi rakyat dan agar kita terus menganggap bahwa kekuasaan mereka yang otoriter itu adalah hal yang alami. Tak perlu jauh mengambil contoh, para penguasa kerajaan-kerajaan di Nusantara pun tidak lupa melakukannya. Berbagai prasasti, patung-patung dan artefak lainnya peninggalan zaman mereka telah menunjukkan kecenderungan itu. Terlepas bahwa apa yang dihasilkan juga merupakan sebuah hasil dari tingkat kesenian pada saat itu.

    Tapi konsep kesenian model penguasa yang saat ini dipraktekkan pada rakyat, jelas sangat jauh berbeda dari kesenian jalanan yang sejati. Mereka (karya–karya seni penguasa) tak lain merupakan alat agitasi dan propaganda penguasa pada rakyatnya, demi langgengnya kekuasaan. Sebaliknya, kesenian jalanan yang kerakyatan, menunjukkan suatu potensi bagi sebuah dunia di mana kesenian adalah bagian integral dari hidup kita. Sebuah perayaan atas kretivitas kita dan kekayaan atas imajinasi kita. Program–program kesenian yang bersifat massal (misal : program sejuta mural untuk rakyat) di seluruh kota, haruslah menjadi prioritas pertama untuk meningkatkan apresiasi masyarakat terhadap seni. Sehingga, nantinya, cita-cita masyarakat yang mengerti akan estetika dari sebuah karya seni bukan sekedar mimpi.***

    Andre GB, adalah seniman muda berkebangsaan Nanusa, kelahiran Manado 12 Agustus 1986. Ia bisa dihubungi di http://sastra-nanusa.blogspot.com/.

    suara

    •Januari 17, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

    Oleh : Daviv zarwih

    Aku jenuh menjadi orang INDONESIA
    Mengapa…………………???
    Ya mengapa aku harus berteriak demikian, di mana selama ini bagiku, semenjak merobek pintu dunia terlahir jadi anak bangsa negeri ini. di didik dalam asuhan tetek yang tak pernah dahaga akan asi, terdekap erat dalam suapan, terbobok pulas di atas keajaiban ladang padi yang menguning. Betapa tidak ketika keajaiban kehidupan baru,,,,,,, oleh tarikan nafas dan detakan jantung sebagai manusia anak negeri ini, aku terharu oleh isak tangis panjang yang setelah lelah aku baru menyadari jeritan pilu itu sesungguhnya tangis sang bayi bisu anak negeri
    Tetapi suatu semangat baru mengangkat anak negri yang hidup berpegang pada kebenaran – kebenaran,,,,,,,,, sebab sekarang ini bapak serta ibunya bersatu dalam satu usaha yang paling besar untuk mengakhiri kelaparan, kebodohan, penyakit, perbudakan dan peperangan,….. secara sadar bersatu membentuk acord – acord nada keadilan dengan nyanyian lagu rakyat, demi rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, nyanyian usang yang sedap di dengar karena setiap anak negri memiliki lembaran balik akan hidup ini.
    Maka masuklah kita kedalam satu peradaban, satu halaman sejarah yang amat mengerikan, ketenteraman sebagai derita kesengsaraan sosial anak negri indonesia. Segala hal – hal yang buruk ini merupakan tanah yang subur untuk menyamaikan akan benih – benih kesangsian, akan benih – benih ketidakpuasan, akan benih – benih ketidakpuasan, akan benih ketidak senangan dan benih – benih kebosanan.
    Himpitan ekonomi yang laksana lilitan ular yang semakin lama semakin mencekik leher, dari pada itu alangkah besarnya bencana yang di lahirkan oleh pendidikan kita ! ratusan, ribuan bahkan jutaan anak rakyat indonesia harus mati dalam satu kebohongan moral tidak berdaya, terperangkap dalam satu lingkaran setan pendidikan yang hanya lolos, tapi bukan lulus.
    Suatu semangat baru, semangat yang tidak di lupakan tetapi ketahuilah tanah indonesaia ini di wariskan untuk kita. jika kita tetap semangat, bersatu dalam satu barisan, dengan satu kemauan dan rencana pergerakan, dapatlah ita menghadapi perkembangan yang menjadi gejolak politik dan sosial, walau pun kiranya yang akan menjadi hasil dari dinamika suatu semangat, perpaduan semangat baru ialah karena dinamisasi rakyat indonesia dan dewan perwakilan mematikan kejenuhan tuk jadi anak negeri indonesia.
    Sejarah telah membuat catatan perjalanan 61 tahun usia kemerdekaan. Alangkah hebatnya kemerdekaan yang menjadi milik kita untuk menolong kehendak yang di kehendaki jiwa karena kita sudah tahu bahwa kita punya proklamasi, bahwa kolonialisme fisik , jiwa telah runtuh oleh keangkuhannya. Proklamasi kita menderu – menderu dan mengantarkan jiwa bangsa kita. dengan satu tekad seribu makna….. “lebih baik hancur lebur dan hilang musnah daripada di jajah kembali……” tapi di sini sekarang ini isak tangis dan air mata terciptalah hidup baru. Apa yang menjadi milik kita, akibat perbuatan tirani terbukti terlepas dari penjajahan fisik dan mengantarkan penjajahan mental.
    Jika sudah demikian kesenjangan membentang sebagai garis pemisah antara komitment sebagai kenyataan empiris untuk memperjuangkan nasib dan rakyat marjinal hanyalah suatu lip – service, sloganistik dan janji untuk rakyat, kekuasaan menggelitik, menggoda, pertaruhan antara nafsu dan kehormatan kala bertaruh di meja pengandalian diri.
    Dan ketika kehendak menterjemahkan bahasa jiwa, nurani bergetar – geter menuntut moralitas prospektif, yang mana seorang pemimpin berkehendak seperti kebijakan seorang pelayan dalam pesta undangan yang mampu memadukan kekuasaan dan kebijaksanaan, kesederhanaan dan keadailan, kesejahteraan dan kemakmuran, sebagai inbangan dinamisasi ekosistem etika sosilitas yang di bentuk dalam tekanan – tekanan pengabdian yang sesungguh – sesungguhnya.
    Pelajaran hidup membuat catatan manusia terlahir tidak di sediakan untuk kekuasaan. Kekuasaan adalah suatu hadiah dari pribadi atau kemunitas sebagai alat, bukan tujuan. Tapi kekuasaan itu kadang menjauh dari naungan moral dan kebajikan. Walau kita telah menutup sejarah kebobrokan dalam kafan agenda harian, tapi hidup ini ingkarnasi, dapat di putar kembali.
    Sesungguhnya di zaman kemerdekaan, di zaman kita ini aku anak negeri indonesia ku katakan kepadamu, biar seluruh bumi indonesia bergoncang dan sampaikan kepada generasi putra – putri terbaik tanah indonesia
    “yang patah pensil bukakan tanah
    Yang tajanm pensil lanjut sekolah
    Kita sudah merdeka, tidak terulang kembali terjajah”