suara

Oleh : Daviv zarwih

Aku jenuh menjadi orang INDONESIA
Mengapa…………………???
Ya mengapa aku harus berteriak demikian, di mana selama ini bagiku, semenjak merobek pintu dunia terlahir jadi anak bangsa negeri ini. di didik dalam asuhan tetek yang tak pernah dahaga akan asi, terdekap erat dalam suapan, terbobok pulas di atas keajaiban ladang padi yang menguning. Betapa tidak ketika keajaiban kehidupan baru,,,,,,, oleh tarikan nafas dan detakan jantung sebagai manusia anak negeri ini, aku terharu oleh isak tangis panjang yang setelah lelah aku baru menyadari jeritan pilu itu sesungguhnya tangis sang bayi bisu anak negeri
Tetapi suatu semangat baru mengangkat anak negri yang hidup berpegang pada kebenaran – kebenaran,,,,,,,,, sebab sekarang ini bapak serta ibunya bersatu dalam satu usaha yang paling besar untuk mengakhiri kelaparan, kebodohan, penyakit, perbudakan dan peperangan,….. secara sadar bersatu membentuk acord – acord nada keadilan dengan nyanyian lagu rakyat, demi rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat, nyanyian usang yang sedap di dengar karena setiap anak negri memiliki lembaran balik akan hidup ini.
Maka masuklah kita kedalam satu peradaban, satu halaman sejarah yang amat mengerikan, ketenteraman sebagai derita kesengsaraan sosial anak negri indonesia. Segala hal – hal yang buruk ini merupakan tanah yang subur untuk menyamaikan akan benih – benih kesangsian, akan benih – benih ketidakpuasan, akan benih – benih ketidakpuasan, akan benih ketidak senangan dan benih – benih kebosanan.
Himpitan ekonomi yang laksana lilitan ular yang semakin lama semakin mencekik leher, dari pada itu alangkah besarnya bencana yang di lahirkan oleh pendidikan kita ! ratusan, ribuan bahkan jutaan anak rakyat indonesia harus mati dalam satu kebohongan moral tidak berdaya, terperangkap dalam satu lingkaran setan pendidikan yang hanya lolos, tapi bukan lulus.
Suatu semangat baru, semangat yang tidak di lupakan tetapi ketahuilah tanah indonesaia ini di wariskan untuk kita. jika kita tetap semangat, bersatu dalam satu barisan, dengan satu kemauan dan rencana pergerakan, dapatlah ita menghadapi perkembangan yang menjadi gejolak politik dan sosial, walau pun kiranya yang akan menjadi hasil dari dinamika suatu semangat, perpaduan semangat baru ialah karena dinamisasi rakyat indonesia dan dewan perwakilan mematikan kejenuhan tuk jadi anak negeri indonesia.
Sejarah telah membuat catatan perjalanan 61 tahun usia kemerdekaan. Alangkah hebatnya kemerdekaan yang menjadi milik kita untuk menolong kehendak yang di kehendaki jiwa karena kita sudah tahu bahwa kita punya proklamasi, bahwa kolonialisme fisik , jiwa telah runtuh oleh keangkuhannya. Proklamasi kita menderu – menderu dan mengantarkan jiwa bangsa kita. dengan satu tekad seribu makna….. “lebih baik hancur lebur dan hilang musnah daripada di jajah kembali……” tapi di sini sekarang ini isak tangis dan air mata terciptalah hidup baru. Apa yang menjadi milik kita, akibat perbuatan tirani terbukti terlepas dari penjajahan fisik dan mengantarkan penjajahan mental.
Jika sudah demikian kesenjangan membentang sebagai garis pemisah antara komitment sebagai kenyataan empiris untuk memperjuangkan nasib dan rakyat marjinal hanyalah suatu lip – service, sloganistik dan janji untuk rakyat, kekuasaan menggelitik, menggoda, pertaruhan antara nafsu dan kehormatan kala bertaruh di meja pengandalian diri.
Dan ketika kehendak menterjemahkan bahasa jiwa, nurani bergetar – geter menuntut moralitas prospektif, yang mana seorang pemimpin berkehendak seperti kebijakan seorang pelayan dalam pesta undangan yang mampu memadukan kekuasaan dan kebijaksanaan, kesederhanaan dan keadailan, kesejahteraan dan kemakmuran, sebagai inbangan dinamisasi ekosistem etika sosilitas yang di bentuk dalam tekanan – tekanan pengabdian yang sesungguh – sesungguhnya.
Pelajaran hidup membuat catatan manusia terlahir tidak di sediakan untuk kekuasaan. Kekuasaan adalah suatu hadiah dari pribadi atau kemunitas sebagai alat, bukan tujuan. Tapi kekuasaan itu kadang menjauh dari naungan moral dan kebajikan. Walau kita telah menutup sejarah kebobrokan dalam kafan agenda harian, tapi hidup ini ingkarnasi, dapat di putar kembali.
Sesungguhnya di zaman kemerdekaan, di zaman kita ini aku anak negeri indonesia ku katakan kepadamu, biar seluruh bumi indonesia bergoncang dan sampaikan kepada generasi putra – putri terbaik tanah indonesia
“yang patah pensil bukakan tanah
Yang tajanm pensil lanjut sekolah
Kita sudah merdeka, tidak terulang kembali terjajah”

~ oleh jaranpusang pada Januari 17, 2009.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: